Subyek Statistik

Tautan Website

BPS Republik Indonesia
BPS Provinsi Kalsel
Kabupaten Tanah Bumbu
STIS
KSK Kusan Hilir

Pengunjung

  Total : 135265
  Hari Ini : 72

Artikel



Tinjauan Perekonomian Tanah Bumbu Tahun 2010

Oleh : Miyan Andi Irawan

Situasi perekonomian nasional 

 

Perkembangan perekonomian Indonesia secara umum, selama tahun 2010 menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan ekspektasi beberapa praktisi, baik di tingkat domestic maupun global. Pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2010 mencapai level 6,1 persen, pertumbuhan tertinggi dicapai sektor transportasi dan komunikasi yang mencapai pertumbuhan 13,5 persen. Sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan paling kecil adalah sektor pertanian, yang mencapai pertumbuhan 2,9 persen.  Indonesia bersama-sama dengan Cina dan India menjadi Negara Asia yang berkinerja lebih baik dibandingkan dengan Negara-negara lain di tengah-tengah upaya Negara-negara barat dalam pemulihan dampak krisis global. Yang cukup menggembirakan, pertumbuhan perkuartal pada tahun 2010 melebihi rata-rata 10 tahun terakhir. Hal ini semakin memperkuat kondisi  fundamental makro ekonomi nasional. Dampak positifnya, kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia makin meningkat, hal ini terlihat dari capaian investasi asing yang mencapai peningkatan signifikan pada tahun 2010. Bahkan investasi financial yang mengalir di pasar modal mencapai sinyal positif. Hal ini terlihat dari tinnginya indeks saham gabungan Indonesia. Pada tahun 2010, kenaikan IHSG mencapai kenaikan yang paling tinggi (46 persen)  dibandingkan dengan kenaikan indeks saham gabungan lainnya di dunia. Hal ini menjadi magnet mengalirnya uang masuk ke Indonesia. Pada gilirannya, kondisi tersebut akan berakibat pula pada penguatan mata uang domestic (apresiasi rupiah). Aliran masuk investasi tersebut juga didorong oleh masih belum pastinya kondisi perekonomian eropa, pasca krisis 2008 yang menularkan penyakit (masalah financial/utang) ke beberapa Negara eropa (Yunani, Polandia dll). Kondisi makro ekonomi nasional yang baik tersebut, didukung pula oleh pergeseran dari mereka yang miskin ke kelompok kelas menengah (masyarakat yang pengeluarannya US $ 2-20 per hari).  Meskipun demikian, prestasi pencapaian makro ekonomi tersebut, masih dibayangi oleh beberapa kendala. Diantaranya adalah kecemasan akan lemahnya daya saing produk manufaktur domestic/local jika berhadapan langsung dengan derasnya arus masuk barang-barang impor asal Cina, sebagai dampak setelah satu tahun pemberlakuan ACFTA. Yang kedua adalah ancaman sekaligus peluang kenaikan harga komoditas bagi perekonomian nasional. Bahkan kenaikan bahan pangan yang mulai terlihat sejak juni 2010, memunculkan resiko meningkatkan jumlah penduduk miskin. Peluang yang dapat digapai Indonesia adalah keuntungan dari kenaikan harga komoditas di pasar global, mengingat Indonesia merupakan salah satu eksportir komoditas terbesar di dunia.

Gambar 1. Perkembangan Beberapa Indikator Makro Nasional


Sumber: Kemenkeu, BPS via world Bank (Data diolah)

  

Gambar 2. Peranan Ekonomi Nasional (PDB) Dari Sisi Spasial Tahun 2010


Sumber: BPS (data diolah)

Profil perekonomian nasional dari sisi spasial, masih menunjukkan kesenjangan peranan antara beberapa pulau (kawasan  barat , tengah dan timur indonesia). lebih dari separo perekonomian Indonesia masih didominasi perekonomian pulau Jawa yang menyumbang sekitar 58 persen PDB. Kawasan timur Indonesia (terutama Maluku dan papua) menjadi daerah penyumbang terkecil PDB (2 persen). Sementara itu, pulau Kalimantan menyumbang PDB sekitar 9 persen.

Gambar 3. Peranan Ekonomi Regional Kalimantan Tahun 2010

                                    

Sumber: BPS (data diolah)

 

Di wilayah regional Kalimantan, kendali perekonomian masih banyak didominasi Kalimantan Timur. Dari total PDRB Kalimantan, 67 persennya adalah sumbangan dari perekonomian Kalimantan Timur. Sumbangan perekonomian Kalimantan Selatan terhadap penciptaan PDRB Kalimantan sekitar 12 persen. Kesenjangan peran tersebut merupakan imbas dari struktur masing-masing wilayah. secara umum, perekonomian di Kalimantan masih ditopang oleh melimpahnya SDA.

Situasi perekonomian regional (Kalimantan Selatan)

Resonansi terjaganya kondisi makro ekonomi nasional tahun 2010, juga turut dirasakan oleh lingkup wilayah regional yang lebih kecil, khususnya pada perekonomian kawasan Kalimantan Selatan.  beberapa indicator makro perekonomian menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan kinerja tahun sebelumnya. Produksi barang dan jasa di Kalimantan selatan sebesar 58,5 triliun rupiah atau meningkat 5,58 persen dibandingkan tahun 2009. Dari sisi sektoral/produksi menurut lapangan usaha, motor pertumbuhan masih digerakkan oleh pertumbuhan sektor pertanian dan pertambangan, yang mengendalikan 40 persen lebih perekonomian Kalimantan selatan. Dari sisi penggunaan (konsumsi), perekonomian Kalimantan selatan masih ditopang oleh besarnya konsumsi masyarakat. Peningkatan pertumbuhan ekonomi Kalimantan selatan juga didorong oleh meningkatnya ekspor dan investasi. Sementara itu, bayang-bayang kenaikan harga komoditas juga melanda Kalimantan selatan. kenaikan komoditas yang paling mencolok adalah pada golongan serealia (padi-padian) di paruh kedua tahun 2010.

 

Situasi perekonomian Tanah Bumbu

Kinerja perekonomian Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2010 sejalan dengan ekonomi kawasan dan nasional. Bahkan, laju pertumbuhan ekonomi Tanah Bumbu mampu melampaui laju pertumbuhan ekonomi provinsi Kalimantan Selatan dan nasional dengan capaian 6,3 triliun rupiah atau meningkat 6,45 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini tidak luput dari peranan/kinerja beberapa sektor ekonomi  dominan daerah, seperti pertambangan dan perkebunan. Sementara itu, secara spasial, perekonomian tanah bumbu pada tahun 2010, masih menempati urutan keempat yang memberikan kontribusi terhadap penciptaan barang dan jasa sekalimantan selatan, dengan share 11%. Sedangkan dalam lingkup yang lebih luas, peranan perekonomian Tanah Bumbu terhadap perekonomian nasional pada tahun yang sama masih sangat kecil, sekitar 0,1 persen.

Tabel 1. Share/Pangsa Ekonomi Kab/kota Sekalsel Tahun 2010.


Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Selatan (data diolah).

 

Pertumbuhan ekonomi Tanah Bumbu

Pertumbuhan ekonomi Tanah Bumbu tahun 2010 terus berlanjut. PDRB Tanah Bumbu meningkat, baik dari sisi nominal atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. Penciuptaan barang dan jasa di Tanah Bumbu meningkat dari 4,7 Trilyun rupiah di tahun 2008 menjadi 6,3 trilyun rupiah pada tahun 2010. Sementara itu, PDRB Tanah Bumbu atas dasar harga konstan (tahun 2000) meningkat dari 2,9 trilyun pada tahun 2008 menjadi 3,3 trilyun rupiah pada tahun 2010. Peningkatan produksi barang dan jasa Tanah Bumbu tanpa sektor pertambangan dari sisi harga berlaku mencapai 2,7 trilyun rupiah pada tahun 2008 menjadi 3,6 trilyun rupiah pada tahun 2010. Sedangkan dari sisi harga konstan (mengeluarkan pengaruh harga), nilainya mencapai 1,6 trilyun rupiah pada tahun 2008 menjadi 1,9 trilyun rupiah pada tahun 2010.

Gambar 4. Perkembangan PDRB Kabupaten Tanah Bumbu Tahun 2008-2010 (Juta Rupiah)


Sumber: PDRB Kab. Tanah Bumbu(data diolah)

Banyak kalangan menilai bahwa pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu variable makro ekonomi yang menjadi isu penting, terutama untuk melihat perkembangan kinerja beberapa sektor usaha di suatu daerah. Pertumbuhan ekonomi Tanah Bumbu tahun 2010 menunjukkan pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009, yang mencapai level 6,45 persen. Namun, jika dibandingkan dengan kinerja selama tiga tahun terakhir, laju pertumbuhan ekonomi Tanah Bumbu tahun 2009 dan 2010 masih lebih lambat dibandingkan dengan kinerja pada tahun 2008, yang merupakan pertumbuhan paling cepat yang pernah diraih Tanah Bumbu (gambar 4). Meskipun demikian, tahun 2010 menjadi momentum penting untuk semakin mengejar percepatan pertumbuhan ekonomi dengan tetap mengusahakan kualitas dari pertumbuhan (pemerataan pendapatan, penurunan pengangguran, penurunan penduduk miskin). Hal ini setidaknya terlihat dari mulai meningkatnya (lebih cepat) pertumbuhan ekonomi tahun 2010 dibandingkan tahun 2009. Dari sisi sektoral, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi  Tanah Bumbu adalah dukungan kinerja sektor pertambangan yang memiliki pangsa produksi sekitar 44 persen terhadap penciptaan produksi barang dan jasa yang ada di Tanah Bumbu. Di sisi yang lain, persentase angka pengangguran juga menurun (8,76 persen) dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai dua digit.

Gambar 5. Perkembangan Rata-rata Harga Minyak Dunia vs Pertumbuhan Ekonomi Tanah Bumbu


Sumber: EIA via Kompas dan BPS Kab. Tanah Bumbu (data diolah)

 

Semakin terintegrasinya perekonomian di antara Negara di dunia, membawa pengaruh ke berbagai perekonomian local di berbagai negara, terutama yang memiliki keterkaitan (linkage) dengan perdagangan dunia.  Tampaknya, kondisi tersebut  juga tercermin dari kinerja perekonomian Tanah Bumbu. Setidaknya jika ditilik dari pengaruh dinamika harga minyak dunia terhadap perekonomian Tanah Bumbu. Sekedar ilustrasi untuk menjelaskan kondisi tersebut, dapat dilihat dari sektor ekonomi/lapangan usaha yang memiliki peranan dominan di Tanah Bumbu. Dari struktur ekonomi (distribusi PDRB) Tanah Bumbu, terpampang bahwa sektor pertambangan merupakan sektor yang peranannya sangat dominan (sekitar 44 persen). Komoditas unggulan di sektor pertambangan Tanah Bumbu masih dihasilkan dari komoditas batubara. Dalam percaturan perdagangan dunia sendiri, batubara dan minyak sama-sama sebagai komoditas energy yang diburu Negara-negara yang membutuhkan energy besar untuk menggerakkan perekonomiannya. Maka tidak heran jika harga keduanya selalu beriringan, apalagi jika Negara importir sudah menjadikan keduanya sebagai barang subtitusi. Jika harga minyak dunia naik, maka harga komoditas batubara juga meningkat. Hal inilah yang disinyalir sebagai salah satu penjelasan keterkaitan antara dinamika harga minyak dunia dengan perekonomian Tanah Bumbu.

Tabel 2. Pangsa Produksi (Share) dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tanah Bumbu Menurut Sektor Tahun 2010




Sektor pertanian

Komoditas Kelapa Sawit

Sektor pertanian merupakan sektor yang menjadi tempat mengantungkan hidup bagi sebagian besar masyarakat Tanah Bumbu. Pertumbuhan sektor pertanian pada tahun 2010 sebesar  5,73%, yang didukung oleh peningkatan produksi subsector perkebunan sebesar 7,71%. Tanaman bahan makanan 4,05% dan perikanan 3,33%. Penggerak utama sektor pertanian Tanah Bumbu adalah subsector perkebunan dengan peranan sekitar 44% terhadap pembentukan produksi barang dan jasa pertanian. Hal ini berarti, apabila produksi sektor perkebunan naik 1 persen, maka akan menyokong pertumbuhan sektor pertanian sebesar 0,44 persen. Peningkatan konsumsi dunia terhadap komoditas sawit dan karet disinyalir sebagai faktor  yang turut memicu peningkatan di sektor perkebunan tanah bumbu pada tahun 2010. Selain itu, peningkatan harga yang terjadi pada tahun yang sama juga semakin menambah gairah produksi kedua komoditas unggulan daerah tersebut.  Hal ini diharapkan akan turut mengangkat kesejahteraan petani yang mengusahakan kedua komoditas tersebut. Pasar sektor perkebunan (khususnya sawit dan karet) sendiri, masih didominasi oleh ekspor. Indonesia memiliki 7,5 juta ha perkebunan sawit, dimana pada tahun 2010, Indonesia menjadi produsen cpo terbesar di dunia dengan volume 21,6 juta ton dan telah mengekspor 15,5 juta ton tahun 2010. Kompetitor utama Indonesia di level global dalam bisnis sawit adalah Malaysia, bersama Malaysia, Indonesia mampu memasok 87% CPO di pasar dunia. Sementara itu, kompetisi produksi nasional, masih didominasi oleh daerah-daerah di Pulau Sumatera.

Gambar 6. Perkembangan ekspor komoditas karet dan minyak/lemak nabati Kalimantan Selatan


Sumber: BI ( Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan: data diolah) 

Kalimantan selatan, baru mampu menyuplai sawit sekitar 4 persen dari total supplay nasional. Prospek komoditas sawit Kalimantan Selatan cukup prospektif, diantara propinsi produsen sawit se Kalimantan, produktivitas tanaman sawit Kalimantan Selatan sekitar 3 ton/ha, atau setara dengan produktivitas daerah lumbung sawit nasional (Riau, Sumut, Sumsel dan Jambi). Hal ini secara tidak langsung menjadi indikasi daya saing produk sawit Kalimantan Selatan lebih baik dibandingkan dengan komoditas sejenis di propinsi Kalimantan lainnya. Bahkan, ekspor komoditas sawit (CPO) Kalimantan Selatan mulai melampaui ekspor karet alam Kalimantan Selatan sejak tahun 2009.    

 Tabel 3. Beberapa Indikator Perkebunan Kelapa Sawit Nasional Tahun 2009.

 

provinsi

luas areal

produksi

produktivitas

(ribu ha)

%

(ribu ton)

%

(ton/ha)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

riau

1.522

20

4.957

25

3

sumut

1.145

15

3.997

20

3

sumsel

721

10

1.987

10

3

jambi

606

8

1.670

8

3

kalteng

582

8

1.352

7

2

kalbar

512

7

1.112

6

2

sumbar

498

7

1.017

5

2

kaltim

379

5

355

2

1

kalsel

332

4

890

4

3

lainnya

1.238

16

2.869

14

2

nasional

7.535

100

20.203

100

3

sumber:statistik indonesia 2010 (data diolah)

 

Peta produksi sawit seKalimantan selatan sendiri, telah menempatkan Tanah Bumbu sebagai produsen sawit yang cukup strategis di kawasan. Dari total luas lahan sawit yang berada di Kalimantan Selatan pada tahun 2010, sekitar 17,6 persen diantaranya berlokasi di Kabupaten Tanah Bumbu, dengan pangsa produksi regional sekitar 26,9 persen dari total produksi sawit di Kalimantan Selatan, atau menempati posisi kedua setelah Kabupaten Kotabaru. Meskipun pangsa komoditas sawit Tanah Bumbu di tingkat nasional  baru mencapai kisaran 1,19 persen, bukan berarti  tidak memiliki peluang meraih nilai tambah yang lebih tinggi lagi. Pasalnya, sampai dengan tahun 2010, produk komoditas tersebut masih dijual dalam bentuk raw material atau maskimal dalam bentuk barang setengah jadi (CPO). Belum ada sektor usaha yang serius mengembangkan industri turunan komoditas sawit di Tanah Bumbu. Semua produk-produk industri yang berbahan baku dari sawit (agroindustri) masih dipasok dari luar wilayah Tanah Bumbu, seperti misalnya minyak goreng, sabun, alat-alat kosmetika dan sebagainya. Peran sektor swasta dan rakyat di bidang produksi Perkebunan sawit Tanah bumbu terbilang cukup berimbang selama tahun 2010 (dengan proporsi perkebunan sawit rakyat : swasta = 53 : 47). Bahkan, produktivitas sawit rakyat bisa melebihi produktivitas swasta. Sementara itu, sampai sekarang belum ada perusahaan milik pemerintah (PTPN) yang turut berkecimpung di sektor ini. 

Tabel 4 . Peranan perkebunan sawit Tanah Bumbu tahun 2009

Share/peranan


luas lahan

produksi

(1)


(2)

(3)

share terhadap provinsi(%)

 

17,61

26,91

share terhadap nasional (%)

 

0,78

1,19

sumber:statistik indonesia 2010 dan dinas perkebunan kalsel (data diolah)



 

 

Gambar  7. Pangsa Produksi Sawit Tanah Bumbu

Sumber: Tanah Bumbu Dalam Angka dan Dinas Perkebunan Kalsel (data diolah)

 








Hampir semua kecamatan di Tanah Bumbu memiliki areal perkebunan sawit, kecuali Kecamatan Batulicin. Kecamatan yang memiliki produktivitas lebih tinggi dibanding lainnya adalah Satui (13,6 ton/ha), Kusan Hulu (11,4 ton/ha) dan Kuranji (10,8 ton/ha). Dari total produksi sawit Tanah Bumbu sekitar 171 ribu ton, 30 persen diantaranya adalah hasil produksi sawit Kecamatan Satui.

Komoditas karet

Tidak heran jika sektor perkebunan Tanah Bumbu menjadi salah satu leading sektor dalam perekonomian daerah. Kontribusinya terhadap penciptaan nilai tambah Tanah Bumbu sekitar 6,3 persen. Selain sawit yang menjadi komoditas andalan, komoditas perkebunan lainnya, seperti karet memiliki potensi yang tidak kalah pentingnya. Dari sisi luas lahan dan  produksi, komoditas karet masih jauh di bawah sawit. Pada tahun 2010 perbandingan produksi keduanya berturut-turut sebesar 171,5 ribu ton untuk sawit dan 12,6 ribu ton untuk karet. Kinerja sektor manufaktur negara-negara pengkonsumsi karet alam terutama Cina, India dan Jepang sedikit banyak turut mewarnai dinamika produksi karet tanah air. Harganya pun ditingkat global cenderung mengalami kenaikan seiring dengan dinamika harga minyak dunia. Peningkatan harga karet alam dunia tersebut juga diperkuat dengan menurunnya  pasokan karet dunia. Berkurangnya pasokan tersebut, berkaitan dengan turunnya produksi karet di sejumlah negara produsen karet, yang diakibatkan gugur daun disertai dengan tingginya frekuensi curah hujan. Penurunan pasokan paling signifikan terjadi sepanjang Juli hingga Oktober 2010. Posisi Indonesia sendiri dalam peta kompetisi produsen karet alam dunia, berada di posisi kedua dunia, urutan pertama masih dipegang oleh Thailand. Produksi karet alam Indonesia tahun 2010 mencapai 2,6 juta ton.

 

 

 

 

Tabel 5. Pangsa Produksi Komoditas Karet Menurut Propinsi Tahun 2010

 

Provinsi

luas areal

produksi

produktivitas

(ribu ha)

%

(ribu ton)

%

(ton/ha)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

sumsel

660

19

512

20

0,776

sumut

463

13

414

16

0,894

jambi

441

13

292

11

0,662

riau

389

11

345

13

0,888

kalbar

389

11

250

10

0,644

kalteng

268

8

187

7

0,697

kalsel

135

4

102

4

0,761

lainnya

691

20

492

19

0,712

nasional

3.435

100

2.595

100

0,755

sumber:statistik indonesia 2010 (data diolah)

 

Jika kita melirik kekuatan sektor perkebunan karet nasional, dominasi daerah wilayah Sumatera masih kuat, baik dari sisi luas lahan maupun produksi. Lebih dari separo (> 56% ) lahan karet yang ada di Indonesia, berlokasi di Sumatera. Lahan terluas dimiliki oleh Sumatera Selatan, yang menyumbang produksi karet alam nasional sebesar 20 persen (sekitar 512 ribu ton) selama tahun 2010. Kalimantan selatan pada tahun yang sama baru mampu menyumbang 4 persen produksi nasional (102 ribu ton) yang dihasilkan dari 135 ribu ha lahan karet, yang tersebar di beberapa kabupaten/kota.

Tabel 6. Peranan Perkebunan Karet Tanah Bumbu Tahun 2009

 

 Share/peranan

 

luas lahan

produksi

 

(1)


(2)

(3)

 

share terhadap provinsi (%)

 

7,90

8,72

 

share terhadap nasional (%)

 

0,31

0,34

 

sumber:statistik indonesia 2010 dan dinas perkebunan kalsel (data diolah)

 

Daerah penghasil karet utama di Kalimantan Selatan adalah Kabupaten tabalong yang memberi kontribusi 20 persen produksi karet alam Kalimantan Selatan. Kabupaten Tanah Bumbu memiliki peranan sekitar 7 persen. Secara nasional, peranan/pangsa produksi karet Tanah Bumbu sebesar 0,34 persen. Produksi karet alam Tanah Bumbu masih disokong sebagian besar oleh perkebunan karet rakyat dan perkebunan besar Negara (PTPN).

 

Gambar 8. Pangsa Produksi Komoditas Karet Kalsel 2010


Sumber: BPS Prov. Kalsel (data diolah)

 

Prospek perkebunan karet di masa depan masih cukup bagus, seiring dengan pertumbuhan industri manufaktur, terutama yang mengolah karet alam (industri otomotif, ban, peralatan rumah tangga, elektronika, PVC dll) serta peningkatan jumlah populasi kendaraan. Rata-rata pemilik kendaraan/mobil mengganti ban dua tahun sekali. Prospek tersebut juga  terlihat selama tahun 2010, beberapa perusahaan go public nasional pengolah karet alam, mengalami kenaikan harga saham yang cukup tinggi. Bahkan ada yang mencapai lebih dari 420 persen pada tahun 2010. Hal ini menandakan optimisme investor terhadap bisnis yang berbasis karet sangat tinggi.

 

Komoditas Tanaman Bahan Makanan

Selain subsektor perkebunan yang menjadi komoditas andalan daerah, subsector tanaman bahan makanan (tabama) mempunyai peran yang tidak dapat dianggap enteng. Fungsi dasarnya sebagai penyangga ketahanan pangan daerah, telah menempatkannya pada posisi penting hingga ke level global. Sampai-sampai pemerintah menaruh perhatian lebih sejak dahulu (mulai revolusi hijau, swasembada dll). Hal itu tidak hanya karena fungsi dasarnya, akan tetapi juga kaitannya dengan beberapa dinamika social laninnya (penduduk miskin). Secara nasional, pergerakan variable-variabel makro yang terkait dengan bahan makanan (terutama harga pangan), berpengaruh signifikan terhadap dinamika persentase angka kemiskinan. Kondisi ini terjadi hampir di semua wilayah di tanah air, termasuk di Kalimantan Selatan. Beberapa lembaga dunia juga telah memberikan sinyal serupa terkait pengaruh harga pangan terhadap penduduk miskin.

Gambar 9. Perkembangan Produksi Padi Tanah Bumbu


Sumber: angka tetap (ATAP), kecuali 2010 masih merupakan angka sementara (ASEM)(data diolah)

 

Padi, sebagai komoditas utama penyangga ketahanan pangan daerah Tanah Bumbu, produksinya pada tahun 2010 meningkat sebesar 14,7 persen dibanding tahun sebelumnya, atau mencapai produksi sebesar 91,1 ribu ton pada tahun 2010, setelah pada tahun sebelumnya sempat menurun, atau hanya mencapai 80 ribu ton. Dari sisi pangsa produksi padi di tingkat nasional, diketahui bahwa produksi padi Tanah Bumbu baru mampu menyumbang 0,14 persen produksi padi nasional pada tahun 2009.

Pertumbuhan produksi padi Tanah Bumbu pada tahun 2010 didorong oleh pertambahan luas panen yang cukup signifikan (bertambah sekitar 30,5 persen dari luas panen sebelumnya).  Jika berkaca pada tingkat konsumsi penduduk sebesar 136,9 kg/per kapita per tahun, maka dengan produksi padi tahun 2010, Tanah Bumbu masih bisa mencapai surplus beras sekitar 22,5 ribu ton lebih. Namun demikian, yang perlu digaris bawahi oleh pemerintah daerah adalah, pada tahun 2010 terjadi penurunan tingkat produktivitas padi sebesar 12,1 persen. Dalam rangka menjaga kinerja sektor pertanian, upaya mendorong peningkatan produktivitas perlu terus dilakukan. Diantaranya adalah perbaikan/penyediaan sarana irigasi, penyediaan pupuk, penggunaan teknologi serta tidak kalah pentingnya adalah pemilihan varietas-varietas unggul. Beberapa varietas padi yang disinyalir berproduktivitas tinggi ke rendah yang ditanam petani Tanah Bumbu berturut-turut adalah jenis Siam Mutiara; Inpari Empat; Kristal; Bayar Pahit; Ciherang. Produksi padi Tanah Bumbu masih ditopang oleh komoditas padi sawah, yang mampu menyumbang 85,67 persen produksi padi Tanah Bumbu yang dihasilkan dari 17,8 ribu ha.

Gambar 10. Perbandingan Karakteristik Padi Sawah dan Ladang


Sumber: ATAP 2010 (data diolah)

 

Sementara itu, capaian produksi padi ladang masih sangat kecil. Pada tahun 2010, produksinya tidak lebih 13,1 ribu ton yang dihasilkan dari lahan  5 ribu ha. Secara alamiah, memang banyak faktor yang melatarbelakangi rendahnya produksi padi ladang, mulai dari system tanam yang kurang teratur jaraknya, konsumsi air yang kurang memadai, hingga pasokan pupuk yang seadanya.

Introduksi teknologi dalam pengolahan lahan sebetulnya sudah diadopsi oleh petani tanah bumbu. Teknologi yang dimaksud berupa penggunaan traktor, sedangkan instrument teknologi lainnya belum tersentuh (penggunaan bioteknologi). Meskipun traktor sudah digunakan oleh beberapa petani Tanah Bumbu, namun masih ada kesenjangan penggunaan traktor antara satu kecamatan dengan lainnya. Jika berkaca pada data tahun 2009, maka terlihat bahwa Kecamatan Batulicin merupakan kecamatan yang paling efektif penggunaan traktornya (rata-rata satu traktor mengolah lahan 45,3 ha). Sedangkan kecamatan yang paling kecil efektivitas penggunaan traktornya (masih didominasi cara manual) adalah Kecamatan Kusan Hulu (rata-rata satu traktor mengolah lahan 1.570 ha). Padahal Kusan Hulu menjadi lumbung padi terbesar kedua di daerah Tanah Bumbu.

Tabel 7. Efektivitas Penggunaan Traktor Tanah Bumbu Tahun 2009


Sumber: SP luas lahan dan alat pertanian Prov. Kalsel tahun 2009 (data diolah)

Sektor pertambangan

Secara umum, kinerja sektor pertambangan Tanah Bumbu tahun 2010  lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Indikasi ini terlihat dari peningkatan laju pertumbuhan ekonomi sektor tersebut yang mencapai 7,28 persen. Hal ini tidak lepas dari dukungan peningkatan produksi komoditas pertambangan (batubara dan bijih besi). Produksi pertambangan Tanah Bumbu tahun 2010 masih didominasi oleh komoditas batubara. Peningkatan produksi batubara didorong oleh pertumbuhan ekonomi Negara Cina, India dan Jepang sebagai importir batubara dunia. Tingginya pertumbuhan ekonomi terutama Cina dan India sudah barang tentu akan berdampak pada besarnya konsumsi energi mereka. Jatuhnya pilihan energy kepada komoditas batubara didasari oleh efisiensi penggunaannya jika dibandingkan dengan komoditas penghasil energy lainnya (misalnya BBM). Maka tidak heran apabila harga komoditas tersebut mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dari sudut pandang spasial, daerah penghasil batubara terbesar di Kalimantan Selatan adalah Tanah Bumbu.  Tingginya revenue yang diterima perusahaan batubara tahun 2010 disinyalir juga semakin meningkat, apalagi didukung oleh kebijakan penurunan  kewajiban membayar royalty dari 13,5 persen pada tahun sebelumnya, menjadi 9,5 persen mulai awal 2010. Peranan sektor pertambangan terhadap penciptaan nilai tambah daerah Tanah Bumbu paling besar dibandingkan dengan peranan sektor lainnya. Pertumbuhan sebesar satu persen di sektor pertambangan, akan mampu menyumbang sekitar 0,44 persen pertumbuhan ekonomi total Tanah Bumbu. Besarnya peranan sektor pertambangan tanah bumbu tersebut turut membentuk dinamika perekonomian daerah. Hal ini dapat dilihat dari kinerja perekonomian daerah (pertumbuhan ekonomi)  yang menunjukkan trend searah dengan sektor tersebut.

 

 

 

 

Gambar 11. Laju pertumbuhan sektor pertambangan dan pertumbuhan ekonomi

 


sumber: BPS Kab. Tanah Bumbu (data diolah)

 

Komoditas pertambangan Tanah Bumbu selain batubara, adalah bijih besi. Meskipun tidak sebesar produksi batubara, produksi bijih besi Tanah Bumbu cukup strategis. Komoditas bijih besi Kalimantan Selatan, ditambang di tiga daerah, yaitu Kotabaru, Tanah Laut dan Tanah Bumbu.  Produksi bijih besi Tanah Bumbu diperkirakan akan meningkat, menyusul akan beroperasinya pabrik pengolah bijih besi mentah patungan PT. Krakatau Stell, PT. ANTAM dan penyertaan modal dari pemprov Kalimantan Selatan. Sebagai bahan baku besi dan baja, tentunya prospek pertambangan bijih besi masih cukup bagus di masa mendatang.

Sektor industri pengolahan

Pada tahun 2010, kinerja sektor industri pengolahan Tanah Bumbu tumbuh 3,59 persen, agak melambat sedikit dibandingkan dengan pertumbuhan pada tahun sebelumnya (5,32 persen). Meskipun demikian, pertumbuhan industri Tanah Bumbu masih lebih cepat dibandingkan pertumbuhan provinsi Kalimantan Selatan, yang mencapai level 2,87 persen.

 

 

Gambar 12. Perkembangan Laju Pertumbuhan Industri Tanah Bumbu


Sumber: BPS Kabupaten Tanah Bumbu (data diolah)

 

Secara umum, terdapat  dua isu penting yang disinyalir mempengaruhi kinerja industri Tanah Bumbu, yaitu masalah ketersediaan infrastruktur dan produktivitas. Kondisi tersebut pada gilirannya akan menentukan efisiensi/kinerja sektor (berimbas kepada daya saing produk industri/manufaktur). Produktivitas sendiri juga tidak berdiri sendiri, karena dipengaruhi oleh berbagai faktor  baik dari sisi mikro (internal perusahaan/pelaku usaha, sepeti umur mesin, manajemen, dll) dan eksternal (kondisi makro, seperti tingkat suku bunga kredit usaha, investasi, kondisi daya beli masyarakat/konsumen dll). Sebagai ilustrasi, jika dilihat kondisi produktivitas industri Tanah Bumbu  pada tahun 2006, industri alat angkutan menjadi industri dengan produktivitas paling besar, disusul oleh industri barang dari logam, industri furniture, industri barang galian nonlogam, dan industri makanan dan minuman.

 

 

Tabel 8. Produktivitas Industri Tanah Bumbu Tahun 2006


Dukungan ketersediaan infrastruktur yang memadai, sangat diperlukan guna mendorong kinerja industri, terutama  memadainya kondisi jalan dan ketersediaan listrik. Memadainya kondisi infrastruktur akan mendorong efisiensi industri melalui pengurangan ekonomi biaya tinggi (high cost economy).

Gambar 13. Perkembangan ekspor impor bulanan Indonesia dengan Cina tahun 2010 (Miliar USD)


Sumber: Kemendag via kompas (data diolah)

Keseriusan untuk segera menyediakan infrastruktur  tersebut dirasa sangat mendesak/urgen ditengah semakin ketatnya persaingan industri nasional sekarang. Apalagi jika dihadapkan pada gempuran produk-produk industri/manufaktur dari Cina. Selama tahun 2010, neraca perdagangan dengan Cina menunjukkan bahwa Indonesia sudah menjadi nett importer. Hal inilah yang menjadi kehawatiran beberapa praktisi, jika industri-industri di daerah tidak siap, maka bisa memicu deindustrialisasi.

Gambar 14. Perkembangan Ekspor/Impor antara Kalimantan Selatan dengan Cina (dalam Ribu USD).

 


Sumber: Statistik Keuangan Daerah Prov. Kalsel ( BI Banjarmasin:data diolah)

 

Posisi Kalimantan Selatan dalam hubungan perdagangan ekspor/impor dengan Cina menunjukkan bahwa Kalimantan Selatan masih berstatus sebagai nett exporter. Namun yang perlu menjadi perhatian, tingginya ekspor Kalimantan Selatan tersebut masih berupa ekspor komoditas mentah, yang didominasi oleh  komoditas batubara.

 

 

 

Sektor lainnya

Melajunya mesin ekonomi Tanah Bumbu pada tahun 2010, didukung juga oleh kinerja enam sektor lainnya selain yang sudah dibahas di atas. Sektor pengangkutan dan transportasi yang memiliki pangsa produksi cukup besar (13,33 persen) meningkat 6,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut sebagai imbas meningkatnya frekuensi aktifitas ekonomi (pertumbuhan ekonomi daerah), terutama yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas export/impor atau perdagangan, baik antar wilayah atau dengan pihak luar negeri.  Meningkatnya sektor pengangkutan juga berimbas pada konsumsi BBM, yang sempat memicu kelangkaan akibat terjadinya kelebihan permintaan (excess demand), terutama pada saat semester kedua. 

Tabel 9. Pangsa Produksi dan Pertumbuhan Sektor Ekonomi Tanah Bumbu Tahun 2010

 


Sumber:  BPS Kab. Tanah Bumbu

Sementara itu kinerja sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan pada tahun 2010 tumbuh  sebesar 7,1 persen, yang didukung oleh peningkatan nilai tambah subsector perbankan yang mencapai 7,5 persen. Kebijakan moneter BI yang tetap mematok tingkat suku bunga SBI pada kisaran 6,5 persen dan terjaganya inflasi, turut mempengaruhi kinerja perbankan komersiil. Dari sisi lokal, fungsi intermediasi perbankan masih ditopang oleh besarnya dominasi penyaluran kredit untuk konsumsi yang mencapai 67 persen dari total kredit yang disalurkan bank-bank di Tanah Bumbu.

 

Gambar 15. Posisi pinjaman rupiah dan valuta asing yang diberikan bank umum dan BPR di Tanah Bumbu tahun 2010.

 


Sumber: Statistik Ekonomi Keuangan Daerah Prov. Kalsel (BI Banjarmasin)

 

 

Struktur kredit yang disalurkan oleh bank di Tanah Bumbu pada tahun 2010 masih didominasi oleh penyaluran kredit ke sektor perdagangan, hotel dan restoran, yang mencapai 67,23 persen dari total kredit yang disalurkan, dimana pada tahun 2010 mampu tumbuh 6,69 persen. Sektor ekonomi yang paling kecil mendapat porsi kredit adalah sektor listrik, gas dan air bersih, yang menyerap kredit hanya 0,03 persen dari total kredit yang disalurkan. Kucuran kredit di sektor yang berperanan kecil tersebut, mampu mendorong kenaikan pertumbuhan sektor tersebut menjadi 2,17 persen.

 

 

 

 

Tabel 10. Posisi pinjaman yang diberikan bank umum dan BPR Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2010


Sumber: Statistik Keuangan Daerah Prov.KalSel (BI Banjarmasin:data diolah)

 

Sektor bangunan Tanah Bumbu pada tahun 2010 melambat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, sektor konstruksi masih mampu berada dalam teritori pertumbuhan positif mencapai 5,91 persen. Dari sisi diagram timbang, tercermin beberapa pergeseran struktur, dari tahun 2006 hingga 2010. Porsi pembangunan di Tanah Bumbu pada tahun 2010, masih didominasi oleh besarnya pembangunan jalan, jembatan dan pelabuhan dengan porsi sekitar 57,05 persen dari biaya konstruksi Tanah Bumbu.  

 

  

Gambar 16. Struktur Diagram Timbang Bahan Konstruksi Kabupaten Tanah Bumbu


Sumber: Dinas PU Kab. Tanah Bumbu (data diolah)

 

Tabel 11. Diagram Timbang Bahan Konstruksi  Tanah Bumbu Tahun 2010.


Sumber: Dinas PU Tanah Bumbu (data diolah)

 

Hal penting yang perlu digaris bawahi oleh pemerintah daerah adalah, sektor konstruksi/bangunan Tanah Bumbu masih dihadapkan pada dua hal utama, yaitu masih rendahnya pencapaian pembangunan infrastruktur terutama jalan dan tingginya biaya konstruksi (harga bahan konstruksi). Kondisi sampai dengan tahun 2009, menunjukkan bahwa jalan-jalan beraspal di Tanah Bumbu belum mencapai separo dari total jalan yang ada. Sementara indikasi tingginya harga bahan konstruksi, terlihat dari perkembangan angka indeks kemahalan konstruksi (IKK).

 

Table 12. Indeks Kemahalan konstruksi Kab/Kota SeKalsel tahun 2009


Selama kurun waktu tahun 2005-2009, IKK Tanah Bumbu telah naik rata-rata mencapai  16 persen/ tahun. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa tertundanya kegiatan konstruksi, akan berpotensi untuk membebani anggaran minimal menjadi 32 persen di tahun berikutnya akibat akumulasi kenaikan harga bahan bangunan. Sebaliknya, percepatan pelaksanaan/realisasi pembangunan/konstruksi justeru akan berpeluang untuk menghemat anggaran tahun berikutnya. Semakin cepatnya realisasi pelaksanaan pembangunan, keuntungan yang diperoleh sebetulnya bukan hanya dari sisi potensi penghematan, akan tetapi juga akan memicu berlanjutnya pertumbuhan ekonomi daerah.

PDRB Perkapita

Pertumbuhan ekonomi,  seharusnya mampu membawa perubahan terhadap kesejahteraan masyarakat, supaya menjadi lebih baik. Dengan demikian, kualitas pertumbuhan ekonomi menjadi misi utama/agenda penting dibalik pencapaian pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Di berbagai wilayah, kondisi tersebut tidak selalu berjalan berbarengan (searah/parallel).  Tingginya pertumbuhan ekonomi terkadang belum ampuh dalam mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran di suatu wilayah, karena berhubungan dengan mekanisme balas jasa faktor produksi yang terlibat dalam proses-proses produksi barang dan jasa yang terjadi di wilayah bersangkutan. Dengan katan lain, proses distribusi pendapatan (distribusi kepemilikan faktor produksi) diperlukan guna menjaga agar pertumbuhan ekonomi yang tercapai mampu berkualitas.

 

Gambar 17. Perkembangan PDRB perkapita Kabupaten Tanah Bumbu


                 Sumber: BPS Kab.Tanah Bumbu (data diolah)

 

PDRB perkapita Tanah Bumbu selalu meningkat setiap tahunnya hingga mencapai 23 juta lebih pada tahun 2010. Namun demikian, peningkatan PDRB perkapita tahun 2010, masih kalah cepat dibandingkan dengan naiknya harga barang-barang konsumsi rumah tangga, yang tercermin dari peningkatan angka inflasi. Dari lima tahun terakhir, pertumbuhan angka PDRB perkapita riil selalu berada di bawah angka inflasi. Hal ini berarti, secara implicit mendeskripsikan bahwa peningkatan pendapatan masyarakat Tanah Bumbu belum mampu menutup laju kenaikan harga barang-barang konsumsi.


  Hits (5943)    Waktu :27-10-2011 (08:59:32)   Komentar (1)
Komentar

Alamat Email    
Komentar
Pengirim : map_girl_yoo@yahoo.com
Hari : 4, Tanggal : 2013-03-07, Waktu : 07:53:41
Komentar :
woahhh....info nya baguzzz n brguna bwt aq
Hal  
1